Pendidikan
Pendidikan adalah segala daya upaya dan semua usaha untuk membuat masyarakat dapat mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Di samping itu pendidikan merupakan usaha untuk membentuk manusia yang utuh lahir dan batin cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur. Pendidikan mampu membentuk kepribadian melalui pendidikan lingkungan yang bisa dipelajari baik secara sengaja maupun tidak. Pendidikan juga mampu membentuk manusia itu memiliki disiplin, pantang menyerah, tidak sombong, menghargai orang lain, bertaqwa, dan kreatif, serta mandiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan baik sengaja maupun tidak, akan mampu membentuk kepribadian manusia yang matang dan wibawa secara lahir dan batin, menyangkut keimanan, ketakwaan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab
HAKEKAT PENDIDIKAN
Secara formal pendidikan itu dilaksanakan sejak usia dini sampai perguruan tinggi. Adapun secara hakiki pendidikan dilakukan seumur hidup sejak lahir hingga dewasa. Waktu kecil pun dalam UU 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pendidikan anak usia dini yang nota bene anak-anak kecil sudah didasari dengan pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai moral yang baik agar dapat membentuk kepribadian dan potensi diri sesuai dengan perkembangan anak. Dalam PP 27 tahun 1990 bab 1 pasal 1 ayat 2, disebutkan bahwa sekolah untuk peserta didik yang masih kecil adalah salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar (Harianti, 1996: 12). Di samping itu terdapat 6 fungsi pendidikan (Depdiknas 2004: 4), yaitu:
• Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin kepada anak.
• Mengenalkan anak pada dunia sekitarnya.
• Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.
• Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.
A. Manusia sebagai makhluk Tuhan.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Manusia lahir dalam keadaan lemah, tidak berdaya apa-apa. Dari ketidak berdayaan ini inilah lalu manusia berusaha dengan menggunakan akal dan pikirannya. Manusia menggunakan lingkungan sebagai ajang belajar. Akhirnya dengan pendidikan manusia mempelajari lingkungannya. Dengan pendidikan manusia menjadi “berdaya” atau “mampu”. Manusia menggunakan akalnya seperti yang dikatakan oleh Cassirer bahwa manusia itu mengguanakan akalnya. Manusia adalah makhluk yang berakal. Bahkan karena akalnya itu, Ernst Cassirer seorang filsuf dalam bukunya An Essay on Man (1944) menekankan bahwa manusia adalah animal symbolicum yang artinya manusia adalah binatang bersimbol. Van Baal (1987:17) juga mengatakan bahwa sesuatu yang menjadi milik manusia itu diperoleh dengan dua cara: Pertama, secara umum untuk menunjukkan segala sesuatunya dengan belajar. Van Baal mengatakan bahwa manusia memperoleh dengan cara belajar dan pengembangannya dalam pengetahuan, kelembagaan, kebiasaan, keterampilan dan seterusnya.
B. Manusia sebagai makhluk individu.
Manusia hidup sebagai dirinya sendiri. Dalam mengarungi hidupnya bagaikan “orang buta yang berjalan di tengah hutan pada malam hari musim hujan”. Ia tidak tahu dirinya, bahkan tidak kenal dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, manusia melakukan upaya menemukan jati dirinya. Upaya-upaya ini dilakukan dengan belajar dari lingkungannya yaitu dengan pendidikan yang dilakukannya dalam jangka waktu yang tidak ada batasnya, yaitu sepanjang hayat di kandung badan, sepanjang hidupnya. Jati diri manusia adalah “kematangan” atau “kedewasaan”. Yang dimaksud adalah matang secara ragawi, matang secara rohani, matang intelektual. Di samping itu juga matang dalam berhubungan baik secara horizontal (hubungan antar manusia dengan manusia dan alam lingkungan) maupun hubungan vertikal (hubungan manusia dengan Tuhannya). Penemuan “jati diri” yang benar inilah yang akan menobatkan manusianya sebagai manusia.
hakekat pendidikan adalah pendidikan untuk manusia dan dapat diperoleh selama manusia lahir hingga dewasa.
a. Manusia mengusahakan proses yang terus menerus. Manusia melakukan rekonstruksi pengalaman dan sekaligus merupakan proses pertumbuhan yang mengarah ke pertumbuhan selanjutnya. Hal ini disebut proses of continues reconstruction of expressi.
b. Relevansi tersebut merupakan tuntutan sejak kecil, remaja, hingga dewasa. Masa relevansi juga sejak di pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, dan masa dunia kerja. Masa relevansi itu terus menerus secara kontinuitas.
c. Masa penyesuaian diri adalah masa fleksibilitas luwes yang disesuaikan dengan kebutuhan diri pada masanya. Artinya manusia harus bisa dan mampu serta mau menyesuaikan dengan keadaan lingkungannya. Lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, desa, kota. Manusia juga harus menyesuaikan diri dengan segala situasinya, berpendidikan ataukah kurang perpendidikan, miskin atau kaya. Di samping itu juga ia harus menyesuaikan diri dengan tempat atau penyesuaiakan diri secara geografis.
Cita-cita manusia itu harus sesuai dengan tanggung jawab manusia dan pendidikannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan masyaraka/lingkungan.
Manusaia memiliki upaya sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan pengajaran agar menguasai kemampuan sesuai dengan peran yang harus dimainkan manusia.
Hal seperti di atas adalah juga seperti yang dijelaskan Ki Hadjar Dewantara, bahwa nilai yang diraih adalah manusia yang utuh lahir dan batinnya yaitu manusia yang cerdas, sehat dan berbudi pekerti luhur.
C. Manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Sebagai makhluk sosial dan juga sebagai makhluk individu, manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Manusia akan membagi kelebihannya dengan manusia lain, sedangkan sebagai makhluk individual manusia butuh mencukupi kekurangan pada dirinya. Sebagai makhluk sosial pula, manusia berhubungan dengan banyak orang. Ia akan belajar dari manusia dan juga alam di sekelilingnya.
Komentar
Posting Komentar