Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena
setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya
yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam
kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang
pendidikan telah dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini. Oleh karena itu
bahasan tersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik,
pengaruhnya sampai saat ini dan dua tonggak penting pendidikan di Indonesia.
Aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang
membawa pembaruan pendidikan. Pertama, “teori“ dipergunakan oleh para pendidik
untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu dalam rangka membuktikan
kebenaran-kebenaran melalui eksperimen dan observasi yang berfungsi menjalankan
pokok bahasannya. Kata “teori” sebagaimana yang dipergunakan dalam konteks
pendidikan secara umum adalah sebuah tema yang apik. Teori yang dimaksudkan
hanya dianggap dengan baik dalam bidang psikologi atau sosiologi hingga sampai
kepada praktek kependidikan .(O’Connor)
Seorang ahli pendidikan Mesir Kontemporer (Muhammad
Nujayhi) merefleksikan pandangan senada dengan O’Connor, bahwa
perkembangan-perkembangan di bidang psikologi eksperimental membawa kesan-kesan
ke dalam dunia pendidikan dan memberi sumbangan bagi teori-teori pendidikan
,sebagaimana yang terdapat pada bidang ilmu pengetahuan khusus. Dengan
demikian,”teori” dalam arti pertama terbatas pada penjelasan mengenai
persoalan-persoalan berkaitan dengan batas-batas ilmiah.
Kedua, “teori” menunjuk kepada bentuk asas-asas yang
saling berhubungan yang mengacu kepada petunjuk praktis. Dalam pengertian
ini, bukan hanya mencangkup pemindahan-pemindahan eksplanasi fenomena yang
ada, namun termasuk didalamnya mengontrol atau membangun pengalaman.
Macam-Macam Aliran Pendidikan
1. Aliran Empirisme (Environmentalisme)
Aliran Empirisme adalah aliran yang mementingkan
stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Aliran ini menyatakan
bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan yang
dibawanya dari semenjak lahir tidak dipentingkan. John Lock, filsuf Inggris
yang mengembangkan paham rasionalisme pada abad ke-18, menyatakan bahwa
anak yang lahir ke dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong
yang belum ditulisi atau dikenal dengan istilah “tabularasa’ ( a blank sheet of
paper). Teori ini mengatakan bahwa manusia yang lahir adalah anak yang
suci seperti meja lilin. Dengan demikian, menurut aliran inin
anak-anak yang lahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan
apa-apa, sebagai kertas putih yang polos. Oleh karena
itu, anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa uang
memberikan warna pendidikannya. Menurut teori ini, pendidikan
memegang peranan penting sebab pendidikan menyediakan lingkungan yang sangat
ideal kepada anak-anak, selain itu teori ini dipandang sebagai aliran yang
sangat optimis terhadap pendidikan, karena teori ini hanya mementingkan
peranan pengalaman yang diproses dari lingkungan, kemampuan dasar yang dibawa
anak sejak lahir dianggap tidak menentukan keberhasilam seseorang dan masih
menganggap manusia sebagai makhluk yang pasif, mudah dibentuk atau
direkayasa.
2. Aliran Nativisme
Teori ini menentang teori empirisne, dengan tokohnya
seorang filsuf Jerman, Schopenhauer (1788-1860), dikatakan bahwa anak-anak yang
lahir ke dunia sudah memiliki pembawaan yang akan berkembang menurut arah
masing-masing, keberhasilan pendidikan anak ditentukan oleh anak itu sendiri.
Teori ini menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan,
termasuk factor pendidikan kurang berpengaruh terhadap pendidikan anak.
Pendidikan tidak akan mempengaruhi perkembangan anak karena setiap anak telah
memiliki pembawaannya.
3. Aliran Naturalisme
Teori ini dipengaruhi oleh seorang filsafat Prancis
J.J.Rousseanue, ia berpendapat setiap anak yang baru dilahirkan pada hakikatnya
memiliki pembawaan baik. Namun, pembawaan baik yang terdapat pada setiap anak
itu akan berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan (keluarga,sekolah,masyarakat).
J.J.Rousseanue mengungkapkan “segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar
dari alam,dan segala sesuatu menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan
manusia”, agar seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang
baik, anak tersebut harus diserahkan pada alam. Kekuatan alam yang akan
mengajarkan kebaikan yang terlahir secara alamiah sejak kelahiran anak
tersebut. Beragam kebaikan itu akan terus diserap oleh setiap anak secara
spontan dan bebas dari rekayasa orang dewasa.
4. Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi merupakan gabungan dari
aliran-aliran di atas, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan
lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia,
tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga kepada faktor yang sama
pentingnya yang mempunyai andil lebih besar dalam menentukan masa depan
seseorang. Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkemangan
manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu: faktor
bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan. Inilah yang di
sebut teori konvergensi. (convergentie=penyatuan hasil, kerjasama mencapai satu
hasil. Konvergeren=menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan). William
Stern(1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman, dan sebagai pelopor
aliran ini mengatakan “kemungkinan-kemungkinan yang di bawa lahir itu adalah
petunjuk-petunjuk nasib depan dengan ruangan permainan. Dalam ruangan permainan
itulah letaknya pendidikan dalam arti se luas-luasnya. Tenaga-tenaga dari luar
dapat menolong, tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini
datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga
pendorong” Jadi menurut Williem seorang anak di lahirkan di dunia sudah disertai
pembawaan baik maupun buruk. Bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan
berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk
perkembangan bakat itu, sebaliknya lingkungan yang baik dapat menghasilkan
perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat
yang di perlukan untuk pengembang itu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik
dalam mengembangkan pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula
menggunakan bahasa lingkungannya.
5. Aliran Progresifisme
Tokoh aliran ini adalah John Dewey yang berpendapat
bahwa manusia mempunyai kemmpuan yang wajar dan dapat menghadapi serta
mengatasi masalah yang bersifat menekan atau yang bersifat mengancam dirinya.
Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai alat dan kecerdasan, hal
ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding
makhluk lain.Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik yang secara
teori mengerti karakter peserta didiknya. Peserta didik tidak hanya dipandang
sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestikan di dalam
tingkah laku dan perbuatan yang berada dalam pengalamannya.
6. Aliran Konstruksifisme
Tokoh aliran ini adalah Gambahsta Vico,seorang
epistermiolog Italia, ia mengatakan bahwa Tuhan adalah cipta alam semesta dan
manusia adalah tuan dari ciptaan. Hanya Tuhan yang dapat menegetahui segala
sesuatu karena Dia pencipta segala sesuatu itu dan manusia hanya dapat
mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan Tuhan.Aliran ini dikembangkan oleh Jean
Piaget dalam teori perkembangan kognitif, bahwa pengetahuan merupakan interaksi
kontinu antara individu satu dengan lingkungannya.
Kesimpulan
Pendidikan tidak bisa datang dengan sendiri tanpa adanya sebuah
proses pembelajaran yang membetuk sebuah aliran-aliran yang
mengalami perkembangan dan perbaikan. Berbagai aliran muncul dengan perspektif
masing-masing, yang mulanya perkembangan seseorang diawali semenjak lahir
dengan berbagai bakat yang dimiliki, perkembangan seseorang dipengengaruhi oleh
lingkungan sekitar dan orang dewasa yang mempengaruhi, dan akhirnya muncul
sebuah aliran yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang tidak hanya
ditentukan dari bakat seseorang, melainkan lingkungan sekitar dan proses selama
pendidikan ikut serta menyumbang perkembangan seseorang. Seseorang yang
mempunyai bakat baik semenjak kecil, sebaiknya tumbuh dan berkembang ditempat
yang baik pula.
Dari berbagai aliran-aliran yang ada menciptakan sebuah aliran
pendidikan yang sekarang diadopsi oleh masyarakat dan para pendidik dalam
sebuah lembaga pendidikan, dapat di simpulkan bahwa aliran yang
sampai sekarang masih di anut oleh masyarakat adalah aliran konvergensi,
karena aliran tersebut menggabungkan antara aliran
nativisme dan empirisme, selain itu merupakan aliran yang sempurna. Sedangkan
masyarakat Indonesia mayoritas juga menganut aliran konvergensi.

Komentar
Posting Komentar