MANUSIA DAN PENDIDIKAN
Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan karena mempunyai akal dan pikiran, hal ini membuat manusia memiliki kemampuan yang sangat besar dalam mengembangkan diri dan juga untuk bertahan hidup, akal dan pikiran jugalah yang membedakan antara manusia dan hewan yang jika dilihat secara sepintas sama-sama merupakan makhluk hidup yang mempunyai nafsu dan naluri. Manusia memiliki potensi yang sangat besar dalam dirinya saat Tuhan menciptakan manusia, potensi inilah yang seharusnya dapat manusia manfaatkan untuk kehidupan yang lebih baik di dunia ini. Akal dan pikiran inilah yang membuat manusia dapat menguasai alam untuk dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai pemenuh kebutuhan untuk keberlangsungan hidup manusia
Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan
perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui pengajaran dan pelatihan.
Jadi dalam hal ini pendidikan adalah proses
atau perbuatan mendidik. Pendapat lain mengatakan bahwa pendidikan adalah
bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada
perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak
cukup cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan
orang lain. Jadi karena manusia diciptakan oleh Tuhan dengan berbekal akal
danpikiran maka manusia membutuhkan pendidikan untuk
mengembangkan kehidupannya demi memuaskan rasa keingintahuannya.
Dalam kehidupannya yang nyata, manusia
mempunyai banyak sekali perbedaan, baik tampilan fisik, strata sosial,
kebiasaan maupun pengetahuannya. Tetapi, dibalik perbedaan itu terdapat satu
hal yang menunjukkan kesamaan di antara semua manusia, yaitu semua manusia
adalah manusia. Berbagai kesamaan yang menjadi karakteristik esensial dari
setiap manusia itulah yang kemudian disebut hakikat manusia. Atau dengan kata
lain hakikat manusia adalah seperangkat gagasan tentang “sesuatu yang olehnya”
manusia menjadi apa yang terwujud, “sesuatu yang olehnya”manusia memiliki
karakteristik yang khas, “sesuatu yang olehnya” ia merupakan sebuah nilai yang
unik, yang memiliki sesuatu martabat khusus.
Sementara itu Tirtahardja dan La Sulo (2010: 3)
mengungkapkan bahwa hakikat manusia adalah ciri-ciri karakteristik yang secara
prinsipiil membedakan manusia dengan hewan.
Wujud hakikat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) menurut paham
eksistensialisme adalah sebagai berikut.
1)
Kemampuan menyadari diri;
2)
Kemampuan bereksistensi;
3)
Pemilikan kata hati;
4)
Moral;
5)
Kemampuan bertanggung jawab;
6)
Rasa kebebasan (kemerdekaan);
7)
Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak; dan
8)
Kemampuan menghayati kebahagiaan.
Hakikat manusia merupakan inti dari kemanusiaan
manusia yang di dalamnya terkandung harkat dan martabat manusia dari awal
penciptaannya di muka bumi sampai perjalanannya kembali ke hadapan Sang Maha
Pencipta (Prayitno, 2009: 14)
Berbeda dengan yang di atas, Mudyahardjo (2012:
17) mengungkapkan pandangan ilmiah dan filosofis tentang manusia. Secara ilmiah
manusia adalah homo sapiens; organisme sosiobudaya; individu yang belajar;
animal sociale (binatang yang hidup bermasyarakat); animal politicon(binatang
yang hidup berpolitik); dan animal economicus (binatang yang terus berusaha
memperoleh kemakmuran materiil). Sedangkan secara filosofis manusia adalah
binatang yang berbuat; makhluk yang berpikir dan beriman/percaya; binatang yang
berevolusi fisik, psikis, dan sosial; binatang yang bebas mewujudkan dirinya;
animal symbolicum (mempunyai kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk
mengkomunikasikan pikirannya).
Secara umum, pendidikan dapat berarti suatu
proses transformasi ilmu pengetahuan kepada generasi berikutnya. Generasi
berikut tersebut mendapat pendidikan secara formal dan informal, sehingga
mereka bertumbuh secara intelektual, mempunyai pengalaman keagamaan, dan sikap
hidup atau moral yang baik. Ini juga berarti, dalam proses pendidikan terjadi
suatu proses persiapan yang dilakukan sedini mungkin kepada generasi berikut
untuk menghadapi masa depannya. Pendidikan menyangkut seluruh unsur pertumbuhan
dan perkembangan manusia, yaitu aspek fisik, psikologis, intelektual, sosial,
serta mental-spiritual, dan lain-lain. Oleh sebab itu, prosesnya harus
dilaksanakan sedini mungkin, dimulai di lingkungan keluarga oleh orang tua atau
ayah dan ibu. Selanjutnya, proses pendidikan terjadi di sekolah dan lingkungan
masyarakat sekitar.
Manusia dan pendidikan merupakan dua hal yang
tidak bisa dipisahkan karena dimanapun manusia berada pasti akan butuh dengan
adanya pendidikan, ini terjadi karena seperti yang telah disebutkan diatas
bahwa pendidikan itu bertujuan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri
manusia. Hal ini jugalah yang menyebabkan pendidikan tidak akan berjalan tanpa
adanya kehadiran manusia. Dalam pendidikan, manusia berperan sebagai subjek
sekaligus juga objek pendidikan. Pendidikan yang diberikan kepada manusia
haruslah dibarengi dengan pemahaman akan manusia itu sendiri. Jika pendidikan
diberikan tanpa memahami manusia berarti pendidikan ini diberikan untuk
mengembangkan potensi manusia tanpa mengerti mengapa, bagaimana, dan untuk apa
manusia itu mendapatkan pendidikan. Pemahaman atas manusia ini sangatlah
penting karena keberagaman yang ada pada diri manusia menyebabkan beragam pula
potensi yang ada dalam diri manusia, sehingga diharuskanlah pendidikan diiringi
oleh pemahaman atas manusia agar pendidikan tidak akan salah arah dalam membina
potensi-potensi manusia tersebut.
Manusia adalah subjek pendidikan, sekaligus
juga sebagai objek pendidikan. Manusia diberikan potensi yaitu cipta, rasa, dan
karsa. Potensi ini yang menjadi bekal manusia untuk menjadi pemimpin di muka
bumi ini agar manusia dapat memahami dirinya dan juga lingkungan sekitarnya.
Proses pendidikan seharusnya bertujuan untuk
mengembangkan kecerdasan intelektual otak yang berada di kepala (Head atau
Kognitif), dapat mendidik pula perasaan atau moralitas manusia yang berkembang
dalam hatinya (Heart atau Afektif), dan yang terakhir adalah mengembangkan
keterampilan manusia dalam memanfaatkan raganya untuk melakukan sesuatu (Hand
atau Psikomotorik).
Aspek kognitif menurut Bloom (1956) terdiri
atas 6 bagian yaitu:
1. Pengetahuan (Knowledge): Kemampuan mengenal
materi yang telah dipelajari, yang penting mengingat keterangan dengan benar.
2. Pemahaman (Comprehension): Kemampuan
mendemonstrasikan fakta dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir,
membandingkan, menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan
gagasan utama.
3. Aplikasi (Application): Kemampuan
menggunakan atau menerapkan materi yang
sudah dipelajari pada situasi yang baru dan
menyangkut penggunaan aturan dan prinsip.
4. Analisis (Analysis): Mampu menganalisis
informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam
bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu
mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg
rumit.
5. Sintesis (Synthesis): Mampu menjelaskan
struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan
mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan
solusi yg dibutuhkan.
6. Evaluasi (Evaluation) : Kemampuan untuk
memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan
menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai
efektivitas atau manfaatnya.
Menurut Krathwol (1964) dan juga Bloom, domain
afektif terbagi atas lima kategori yaitu:
1. Penerimaan (Receiving): Kesediaan untuk
menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya
2. Tanggapan (Responding): Memberikan reaksi
terhadap fenomena yang ada di lingkungannya
3. Penghargaan (Valuing): Berkaitan dengan
harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku
4. Pengorganisasian (Organization): Memadukan
nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk
suatu sistem nilai yang konsisten
5. Karakterisasi berdasarkan Nilai-nilai
(Characterization by Value or Value Complex): Memiliki sistem nilai yang
mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain
psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
1. Peniruan : Mulai memberi respons serupa
dengan apa yang diamati
2. Manipulasi : Menekankan perkembangan
kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang
menetapkan suatu penampilan melalui latihan
3. Ketetapan : Memerlukan kecermatan, proporsi
dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih
terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum
4. Artikulasi : Menekankan koordinasi suatu
rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan
atau konsistensi internal diantara gerakan-gerakan yang berbeda
5. Pengalamiahan : Menuruti tingkah laku yang
ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis.
Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan
tertinggi dalam domain psikomotorik.
Kesimpulan
Manusia adalah makhluk yang mampu berpikir,
makhluk yang memiliki akal budi, makhluk yang mampu berbahasa, dan makhluk yang
mampu membuat perangkat peralatan untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan
eksistensinya dalam kehidupan.
NAMA : RICKY YAHYA SIMANULANG
NPM : 202014500579
Komentar
Posting Komentar